Berbincang dengan Hoax, Media Sosial dan Dunia Digital (Materi 13 GMLD)

 Berbincang dengan Hoax, Media Sosial dan Dunia Digital (Materi 13 GMLD) Oleh Ansar Salihin Pertemuan ke-13 kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) Aam Nurhasanah kembali menjadi narasumber menjelaskan tentang Berbincang dengan Hoax, Media Sosial dan Dunia Digital, kelas GMLD dilaksanakan melalui Grup WA, Senin 29 November 2021 pukul 16.00-18.00 WIB yang dimoderatori oleh Dail Ma’ruf.

Strategi Menangkal Hoaks (Materi 5 GMLD)

 Strategi Menangkal Hoaks


Oleh Ansar Salihin


Kelas Guru Motivator Literasi Digital pertemuan ke-5 membahas tentang Strategi Menangkal Hoaks disampaikan oleh Heni Mulyati, M.Pd dimodertori oleh Muliadi. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara online melalui WA grup pada Rabu, 10 November 2021 pukul 16.00-18.00 WIB. Materi yang disampaikan sangat menarik, narasumber memaparkan materi dengan terperinci melalui slide gambar dan dilengkapi dengan penjelasan setiap slide. Selain itu, moderator juga panjang lebar menjelaskan tata tertib, terkait tugas dan membuka materi secara terperinci. Bahkan penulis menganggap sudah memulai materi, ternyata baru pembukaan oleh moderator.

Mengawali materi moderator memperkenalkan profil narasumber, Heni Mulyati, M.Pd lahir di Cilacap, 11 Januari 1982, menamatkan pendidikan S1 dan S2 dari UNJ pada bidang bimbingan dan konseling. Heni adalah seorang pembicara handal atau narasumber dalam berbagai forum seminar, Pelatihan, konferensi, dan Kursus. Dalam dunia kepenulisan, beliau tercatat sebagai Tim Penulis Buku Informatika untuk SMA kelas X, XI, dan XII penerbit Andi. Koordinator Tim Buku Panduan (Literasi Media: Kurikulum, Panduan Fasilitator, dan Panduan Materi Narasumber) bekerja sama dengan Internews dan didukung USAID.

Narasumber mengajak peserta untuk mengingat kembali perkembangkan tenologi masa lalu “Mari kita nostalgia ke era internet belum ditemukan. Media informasi saat itu sangat terbatas. Ada TV, radio, dan koran cetak. Saya pernah mengalami juga bagaimana antrinya telepon di wartel atau telepon gunakan telepon umum yang koin. Dulu berkirim surat lewat pak pos dan menunggu berhari-hari balasannya” Jelasnya.


Kemudian membandingkan dengan masa sekarang semua berubah. Siapa pun bisa menjadi pembuat, penyebar, dan pengguna informasi. Dulu kalau nonton acara, setel TV. belum masuk listrik. Kalau mau nonton TV harus pakai AKI. Itu pun menumpang di tetangga. Sekarang, semua saluran TV apa pun ada di genggaman. Bahkan banyak juga sosok-sosok yang menjadi milyarder karena mempunya channel Youtube sendiri.


Terkait dengan tema hoaks menurut narasumber selain kemudahan yang diberikan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, ada sisi lain yang perlu jadi perhatian bersama, yaitu peredaran hoaks di masyarakat. Mafindo melakukan pemeriksaan fakta berdasarkan laporan yang masuk. Terdapat 2.298 hoaks selama tahun 2020.  Dilihat dari temanya, politik dan kesehatan menduduki peringkat dua terbesar dibanding tema-tema lainnya. (sumber: Litbang Mafindo).

Selanjutnya dilihat dari saluran peredarannya ternyata media sosial Facebook, Whatshap dan twitter menjadi tempat dimana hoaks banyak beredar. Sebagaimana sumber dari Litbang Mafindo penyebaran Hoaks tahun 2020 paling banyak di Facebook sebanyak 63%, Whatsapp 14%, dan Twitter 10% baru diikuti oleh media sosial lainnya. Itulah mengapa penting bagi kita untuk dapat membedakan mana hoaks atau bukan dengan memiliki kemampuan periksa fakta yang cukup.


Ada beberapa situasi yang perlu kita sadari terkait dengan banjirnya informasi ini. Yaitu:

1. Era Post Truth: Era post truth ditandai dengan ketika suatu fakta diberikan, seseorang cenderung tidak menerimanya. Hal ini lebih dikarenakan emosi yang dominan dan keyakinan pribadi.

2. Matinya kepakaran: Matinya kepakaran situasi yang perlu kita waspadai. Banyak orang, terutama masa pandemi, memberikan gagasan namun bukan ahli di bidangnya.

3. Filter bubble dan echo chamber: Ada hal lain yang perlu kita sadari, kita semua berada di gelembung-gelembung kelompok informasi. Misal, saya akan memblokir orang yang tidak sesuai dengan ide dan pemikiran saya. Dampaknya lingkaran kita terbatas pada orang-orang yang satu ide saja.


Hoaks sendiri dari asalnya sudah digunakan abad ke-17. Asal kata ‘hocus’. Hocus pocus, mirip dengan sim salabim di sulap. Dari sisi pengertiannya, hoaks adalah infomasi yang sesungguhnya tidak benar, tapi dibuat seolah-olah benar.

Menurut narasumber penyebab hoaks masih dipercaya karena: Kemampuan literasi digital dan berpikir kritis yang belum merata, Polarisasi masyarakat dan belum cakap memilah informasi dan minimnya kemampuan periksa fakta. Banyak alasan seseorang menyebarkan hoaks. Salah satunya motif ekonomi. Ada orang-orang yang membuat situs tertentu yang isinya provokatif. 

Ciri-ciri informasi hoaks adalah Sumber informasi tidak jelas, biasanya bangkitkan emosi, kelihatan ilmiah namun salah, isinya sembunyikan fakta, dan minta diviralkan. Dampaknya adalah akan timbul perpecahan dan saling curiga antara kita. Selain itu muncul kebingungan bedakan mana yang hoaks dan bukan.  Dapat pula membuat meninggal seorang karena terlalu percaya dengan informasi yang didapat. Karena percaya hoaks akhirnya terlambat penanganan medis.

Demikian materi yang dijelaskan oleh narasumber pada pertemuan ke-5 ini, semoga dapat bermanfaat untuk penulis dan juga kepada peserta kelas Guru Motivator Literasi Digital. Marilah kita menjadi orang-orang terdepan dalam menangkal hoaks melalui penguatan literasi digital. Hanya literasi digital yang dapat melawan hoaks di media digital.

Salam Litersi Digital



Comments

Post a Comment

RPP/PERANGKAT