Literasi Digital di Lingkungan Pendidikan Baru Sebatas Webinar

Oleh Ansar Salihin


Gerakan Literasi sudah digaungkan beberapa tahun terakhir ini, bahkan menjadi salah satu substansi terpenting dalam pendidikan. Melalui gerakan literasi nasional sudah melaksanakan berbagai kegiatan untuk menyukseskan program tersebut. Salah satunya di lingkungan pendidikan gerakan literasi ini disebut GLS (gerakan Literasi Sekolah) atau Gelem (Gerakan Literasi Madrasah). Program tersebut sudah disusun dengan sebaik mungkin di tingkat nasional, namun kenyataan berbeda di lapangan penerapan gerakan literasi ini.


Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, proses pembelajaran mengalami perubahan dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh atau sering disebut Daring (dalam jaringan). Setelah proses pembelajaran daring lebih satu tahun banyak kendala yang dihadapi baik siswa maupun guru serta orang tua siswa. Seharusnya kendala ini tidak terjadi secara teknis kalau gerakan literasi sudah berjalan dengan baik. 


Menteri Komunikasi dan Informasi kembali meluncurkan program baru Gerakan Literasi Digital Nasional. Salah satu tujuannya untuk memudahkan proses pembelajaran daring dan menghindari penyalahan penggunaan media di kalangan masyarakat. Berbagai kegiatanpun dilaksanakan oleh lembaga tertentu bekerjasama sama dengan kominfo untuk mendukung program gerakan literasi digital. Namun sampai saat ini program tersebut baru sebatas webinar yang diikuti guru, pegawai, komunitas dan lain sebagainya. 


Sebenarnya program ini sangat bagus, namun implementasinya masih jauh dari harapan di kalangan masyarakat terutama di lingkungan pendidikan. Sudah banyak guru-guru mengikuti webinar literasi digital, semoga bukan sebatas ikut untuk mendapatkan sertifikat, namun memang harus diterapkan literasi digital dalam proses pembelajaran di sekolah. Mulai dari sosialisasi kepada siswa, membuat kegiatan khusus literasi digital dan menyatukan program literasi digital dengan proses pembelajaran pada saat ini.


Sebagai contoh yang paling marak saat ini terkait literasi digital adalah penggunaan media sosial. Banyak kasus melanggar hukum terjadi hanya gara-gara media sosial. Ini banyak juga terjadi kepada siswa yang statusnya aktif di sekolah. Karena tidak adanya pengawasan khusus atau pembinaan dari orang tertentu. Kasus ini dapat diminimalisir dengan ada pembinaan dari guru terhadap siswa yang menggunakan media sosial. Caranya guru dan siswa harus menyatu dalam media sosial, selama ini yang terjadi ada skat antara guru dan siswa dalam menggunakan sosial. Guru dapat mengajak siswa memposting tugas atau pembelajaran di media sosial misalnya tugas projek gambar, kerajinan, foto yang dilengkapi dengan narasi yang baik. Atau mengajak siswa mempromosikan kegiatan sekolah dengan memposting kegiatan sekolah dengan narasi yang lengkap 5W 1 H. Dan masih banyak yang dapat dilakukan untuk mendukung Gerakan Literasi Digital ini.


Semoga setelah mengikuti Webinar Literasi Digital beberapa kali, guru dapat menerapkan dalam proses pembelajaran.


*) Penulis adalah Guru dan Penggiat Literasi

Comments

  1. Keren sekali. Inspiratif. Aamiin.

    ReplyDelete
  2. Benar juga sih, di satu sisi pembelajaran lewat daring, sisi lainnya bisa menimbulkan akibat kurang bagus jika anak terlalu sering memakai media sosial.

    ReplyDelete
  3. Terima kasih sudah berbagi ilmu Pak. Walaupun saya tidak ikut, dengan ulasan ini sedikit tahu. Terima kasih banyak. www.gurupembelajar.my.id

    ReplyDelete

Post a Comment

RPP/PERANGKAT